Kamis, 29 Januari 2009

Pesantren Abuya Dimyati, Banten

Pesantren ini sangat sederhana dan tradisional sekali karena pesantren ini hanya memiliki bangunan yang terbuat dari bambu saja, walaupun sederhana pesantren ini memiliki kekuatan yang sangat magic bisa menarik orang dari luar daerah untuk datang ke pesantren ini.

Pesantren ini berada di daerah kulon ( barat ) dikota Banten tepatnya di desa Cidahu, Banten. Semua orang disana pasti hafal tentang pesantren ini, karena pesantren ini sangat terkenal dikalangan para santri dan para kiyai.

Pesantren ini didirikan oleh KH. Dimyati atau sering kami sebut Abuya Dimyati beliau adalah guru yang sangat mulia, yang sangat mengagumkan. Salah satu ajarannya yaitu ketika beliau ingin mengajar ngaji para santri yang didahulukan adalah bertanya apakah semua putra beliau sudah ikut mengaji atau belum, karena menurut beliau keluarga adalah amanah dari Allah SWTyang harus dijaga dan diberikan pengajaran, agar menjadi manusia yang bermanfaat fiddin waddunya wal akhirat.

Pertama kali saya ke pesantren itu dalam rangka silaturahmi, ada kejadian yang menurutku adalah sangat luar biasa, yaitu ketika saya akan bersalaman dengan Abuya Dimyati, saat itu sudah malam dan keadaan di luar sangat gelap, tapi saya melihat wajah Abuya Dimyati saat itu sangat bercahaya mengalahkan lampu yang berada di tempat itu, seolah pancaran wajahnya menutupi lampu-lampu itu.

Saat itu saya sangat takjub akan keajaiban ini, dan saya sangat bersyukur bisa melihat ulama yang sangat membuat saya merasakan hal yang belum pernah saya rasakan selama hidup ini. Yaitu kekaguman yang luar biasa, hingga saya bercita-cita ingin menjadi seperti beliau.

Namun sayang sekali Abuya Dimyati sekarang telah meninggal dunia, dan beliau meninggalkan ilmu untuk putra-putranya dan juga untuk para santrinya termasuk saya. Semoga saya bisa seperti beliau. Amin Ya Robbal Alamin.

PESANTREN SYEKH AHMAD JAUHARI UMAR BIN MUHAMMAD ISHAQ UMAR

Keinginan kuat yang membuat saya begitu menginginkan pesantren di tempat ini, seolah ada magnet yang menarik saya kesana. Cukup jauh dari tempat tinggal saya yaitu di daerah jawa timur.


Disana saya diajarkan manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani yaitu kisah tentang perjuangan wali qutub yang sangat dikagumi oleh umat islam, terutama saya pribadi. Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani adalah cucu Rasulullah SAW dari Sayidina Hasan bin Ali bin Abu Thalib RA. Beliau dilahirkan di Baghdad, Iraq. Beliau adalah sufi yang kharisamtik dan memiliki karomah.


Di pesantren ini saya juga di ajarkan untuk mencintai dan menyayangi anak yatim, karena sungguh ratusan anak yatim di asuh oleh pendiri pesantren ini yaitu Syekh Ahmad Jauhari Umar bin Muhammad Ishaq Umar dengan asuhan beliau seluruh anak yatim dan santri disini semua biaya di tanggung oleh pesantren dari hasil panen sawah yang di miliki oleh pesantren ini.


Kami santri dari luar kota hanya untuk Riyadloh yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara banyak berdzikir kepada Allah SWT di siang dan malam, kami juga di sunnahkan untuk berpuasa selama 40 hari, dan mendapatkan tugas berdzikir sesuai yang diberikan oleh pendiri pesantren.


Ketika saya berada disana, kebetulan sekali Pak Yai ( sebutan Syekh ahmad Jauhari ) sedang dalam keadaan sakit, karena usia, beliau lahir pashari kemerdekaan RI yaitu 17 agustus 1945. Beliau sangat baik sekali, walaupun saya hanya beberapa kali saja melihatnya, ada kebiasaannya yang saya ingat sampai saat ini yaitu beliau sering berdoa diluar rumah menghadap ke langit langsung.


Putra beliau ada tiga Gus Sholahuddin, Gus Ali, dan Gus Sulthon. Putra beliau memiliki karakter yang berbeda satu dengan yang lainnya. Gus Sholahuddin, memiliki sifat yang BIjaksana, Gus Sulthon memiliki sifat yang sangat Disiplin, dan Gus Ali sebagai putra terakhir memiliki sifat yang penyayang.


Ketika saya baru 21 hari disana terjadi sesuatu dengan pa Yai, beliau dibawa ke rumah sakit dan beliau dinyatakan meninggal dunia, saat itu saya seperti kehilangan sosok ayah yang sangat kharismatik, penyayang dan saya ingat ketika saya pesantren di Sukahurip bahwa guru itu seperti seorang ayah yang menunjukkan kenpada jalan yang di Ridhoi Allah SWT.



Ketika jenazah hendak dikebumikan

Lafadz Laailaahaillallah.....Laailaahaillallah....Laailaahaillallah...

Terus di kumandangkan para santri

Tak terasa air mata jatuh tak terbendung


Apalagi ketika Gus Ali yang mengumandangkan lafadz tauhid

Dan ketika Gus Sulthon yang sangat disiplin itu menangis

Juga ketika Gus Sholah membacakan Talqin

Hati ini merasakan kesedihan yang amat sangat luar biasa


Seperti sebuah kehilangan yang pernah kurasakan

Ketika Mamah Nurhayati meninggal dunia

Saat itu saya seperti anak yang di tinggalkan oleh orangtuanya

Air mata bercucuran seperti air terjun.



Terjadi sebuah kejadian yang lucu tapi juga mengharukan, ketika jenazah dikebumikan semua orang menangis tidak terkecuali preman yang sering berbuat dosapun, denga tattoo nya, dia menangis sesegukan.



Selamat tinggal ayahku tercinta, guruku tersayang semoga kita akan di pertemukan di akhirat kelak.

PESANTREN DARUT TAWABIN

Pesantren ini terletak di daerah Cirebon, lebih detailnya Desa Panguragan, Arjawinangun Cirebon


Pesantren ini dipimpin oleh seorang kiyai yang saat ini sudah meninggal dunia yaitu KH. Khotim atau yang sering kita panggil Mbah Khotim, beliau adalah putra dari Mbah Muhyiddin pendiri pesantren ini. Pesantren ini berdiri sejak lama sekali, sejak penjajahan belanda di Indonesia.


Pesantren ini adalah pesantren khusus Riyadloh ( artinya mensucikan diri ) jadi pesantren ini tujuan utamanya adalah pesantren yang didirikan agar para santri lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Disana para santri di sunnahkan untuk berpuasa selama 40 hari dan melakukan ibadah yang full. Diantaranya shalat fardhu wajib berjamaah, shalat sunnah malam hari, karena disana malam hari adalah malam dimana para santri tidak diperbolehkan untuk tidur istilahnya siang dijadikan malam dan malam dijadikan siang. Artinya siang hari diperbolehkan tidur, tapi malam hari dilarang tidur karena kegiatannya adalh ibadah kepada Allah SWT.

PESANTREN SUKAHURIP

Pesantren Sukahurip


Pesantren ini terletak diselatan kota Bandung, tepatnya di Cikancung, Cicalengka Bandung Selatan. Dengan di pimpin oleh kiyai yang sangat kharismatik Akang KH. Abdul Fatah, pesantren ini sangat memiliki karakter yang sangat tradisional, tidak berubah oleh perkembangan zaman.


Sekitar tahun 2004 saya mencoba mendalami ilmu di pesantren ini, hal ini dikarenakan sahabat ane yang bernama Asep Aminuddin tinggal tidak jauh dari pesantren ini.


Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan di pesantren tradisional ini, dari ilmu akhlaq, fikih, sampai ilmu bahasa yang tentunya bahasa arab, karena bahasa arab adalah bahasa Al Qur'an sebagai pedoman hidup ummat islam dimanapun berada.


Pertama kali saya datang ke pesantren ini, saya sangat tercengan dengan pemandangan yang sangat berbeda dengan kota Bogor tempat saya tinggal, suasana yang bener-bener alami, tradisional, tenang, tentram dan damai. Tentunya saya sangat menikmati suasana yang sangat alami itu.


Saat itu saya di tempatkan di sebuah " kobong " ( sebutan untuk kamar yang ada di pesantren ) yang membuat saya tercengang adalah kobong tersebut terbuat dari bambu dan dibuat seperti panggung yang terlihat reot karena sudah lama berdiri, bukan hanya itu saja yang membuat saya merasa heran karena bangunan ini tidak ada di kota yang saya tinggali, ternyata setelah saya masuk kedalam kobong tersebut didalam kobong itu ada tiga tingkat, terbayang ruangan sekecil itu harus dibagi tiga tingkat, yang tentu saja ketika kita memasukinya kita harus menunduk, hal ini ternyata berfilosofi bahwa kita harus selalu tunduk kepada Allah SWT.


Dilantai yang ketiga dekat sekali dengan kenteng / atap atau memang ternyata kita berada di atap itu, jadi kita akan merasakan panas dan dingin langsung dari langit. Sangat menyenangkan......


Semua santri yang tinggal disana belajar mandiri, dari masak, mencuci baju, membersihkan kobong dilakukan oleh sendiri.


Cerita lucu... ketika saya ingin makan, warung agak lumayan jauh dari pesantren ini yang disediakan disini adalah kantin yang tidak setiap saat buka dikarenakan yang menjaga kantin ini adalah santri yang kegiatan utamanya adalah mengaji. Saat itu perut lapar sekali, ingin meminta tolong orang lain saat itu tidak memungkinkan karena mereka sedang mempersiapkan diri mengaji di mesjid, terpaksa harus berusaha sendiri, saya pergi ke dapur yang ga bisa disebut dapur karena "dapur" itu hanya bangunan yang hanya ditutupi oleh atap saja, terbuka dan beralaskan tanah. Yang meyakinkan saya bahwa disitu adalah dapur karena disitu terdapat " hawu " ( sebutan tempat untuk memasak yang terbuat dari bata ) alias batu tersebut digunakan untuk membakar kayu bakar sebagai bahan untuk memasak.


Saat itu saya mencoba menyalakan api, dengan sekuat tenaga saya, terbayang di rumah yang hanya 'klik' maka api itu akan menyala karena di rumah menggunakan kompor gas. Dengan susah payah saya menyalakan kayu bakar itu.. tetap saja hasilnya nihil, akhirnya saya kesal juga, kutiup sekencang-kencangnya bukan api yang menyala tetapi wajah saya yang hitam belepotan karena bekas kayu bakar.hehehe



Dan saat itu Akang melihat saya belepotan hitam memberitahuku bahwa harus dengan kesabaran supaya api itu bisa menyala. Dengan kesabaran pasti api itu akan menyala, pelajaran pertama yang kudapatkan dipesantren ini adalah kesabaran yang membuahkan hasil akhirnya api itu menyala dan saya bisa memasak walaupun mie instan.